16.9.13 | By: Indah Ayu Septriyaningrum

Karena "Rupiah"

Assalamualaikum

Selamat malam sob, apa kabar mu? semoga selalu dalam lindungan-Nya. Karena hanya Ia lah yang mampu menjaga mu sekalian dalam lelap mu.
Malam ini aku mau bercerita tentang momen nyata yang pernah aku alami.
Ini kisah nyata, entahlah aku terkesima juga sedih juga tersentuh. Entah karena aku baru mengetahui, atau mungkin karena aku baru membuka mata, semacam pengingat kalau aku harus selalu bersyukur untuk segala yang aku miliki saat ini. "lihatlah! hidup mereka jauh lebih keras dari apa yang pernah kamu alami". Semacam itu lah yang mungkin malaikat katakan kalau aja malaikat bisa langsung berbicara padaku.

Waktu itu, entah kenapa tumben banget kaka ku ngajak makan malam minggu di sekitar Murjani. Tenang, bukan buat ngeceng dan sebagainya. Ya, jujur aja kami kakak beradik ini tipe yang ga suka nongkrong malam-malam. Ya, kami kesini waktu itu murni mau nyobain pentol goreng, jagung bakar, intinya panganan nya yang dikecengin. Wkwkwk... 

Bagi kamu yang belum pernah ke murjani di sabtu malam, sini aku ceritain pengalaman pertama dan terakhir ku (sampai saat ini) di murjani. Ya, suasana malam itu ramai sekali. Banyak muda-mudi yang dimabuk asmara berduaan. Ada juga yang nongkrong bareng temen-temennya. Pakaian mereka eemmmm...ya yang lelaki tertutup, yang perempuan kehabisan bahan (kain). Ada juga baju yang belum selesai dijahit tapi dipakai (read: bolong dibagian punggung). Atau celana jeans seperempat yang harusnya dipakai anak SD yang jatoh nya diatas paha kalau dipakai perempuan umur 15 keatas (read: hotpants). Emmm, sebenernya waktu itu aku agak canggung, ya pertama karena itu kali pertama aku kesana di malam minggu. Yang kedua, ada rasa malu dengan jilbab yang kupakai. Bukan karena malu karena pakai jilbab. Bukan. Tapi malu, karena kebanyakan orang pasti nilai nya negatif. Iya lah, bandingkan..bedakan nemuin perempuan malam minggu di murjani sama nemuin perempuan pakai jilbab dimasjid? Ya, begitu lah perasaanku waktu itu. Tapi, ya niat nya kan cuma makan doang. Yaudahlah ya Allah Maha tau. 

Akhirnya aku dan kaka ku pesan pentol goreng, otak-otak, jagung bakar dan minuman. Sambil menunggu pesanan kami datang, dibawah cahaya remang. Aku masih aja mengamati pemandanganku. Terbesit dibenak ku, ya Allah ini masa ku. Gimana masa anak ku? Gimana masa cucuku nanti? Apa aku bisa membimbing mereka agar mereka bisa memilah mana baik dan buruk sebagaimana yang ibu ajarkan?! Lamunanku kemudian terhenti karena tiba-tiba ada beberapa anak kecil yang mendatangi meja kami. Tanpa jeda, tanpa komando. Mereka serempak menyanyikan sebuah lagu yang sama sekali asing terdengar ditelingaku. Sambil mereka nyanyikan lagu itu, mataku tak lepas untuk memperhatikan mereka bernyanyi dengan penuh semangat sambil membawa kecekan yang terbuat dari kayu dan tutup botol minuman soda yang dilempengkan dan kemudian di rapatkan dan dihubungkan dengan paku. Penampilan mereka begitu...emmm..aku harus bilang ini..tak terawat, bisa kuliat debu menempel diwajah mereka, penampilan mereka seperti tidak mandi 3 hari. Pakaian mereka lusuh. Bocah laki-laki itu memakai setelan bergambar power ranger namun sudah lusuh. Sementara adik perempuannya menggunakan leging panjang dan atasan panjang yang juga lusuh bergambar barbie. 

Setelah mereka terlihat telah selesai memamerkan kebolehannya dalam bernyanyi. Aku pun memberikan rupiah kepada mereka, karena aku tau karena "rupiah" lah mereka mau bernyanyi saat itu didepanku. Tapi tak sekedar memberi mereka rupiah. Perlahan, rasa ingin tau ku pun mendorongku untuk berinteraksi dengan mereka. Dimulai dengan kata "Hai dek" , kemudian aku bertanya siapa namanya. Entahlah, mereka malu, atau baru kali ini ada yang menanyakan mereka. Yang jelas mereka terlihat canggung dan bingung saat aku mulai mengajak mereka berkomunikasi. Akhirnya si kakak (bocah laki-laki) itu memulai respon pertamanya. Dengan masih saling dorong-dorongan mereka akhirnya memperkenalkan diri, aku pun jadi tertawa melihat tingkah mereka yang lucu menurutku. Begitu lugu dan polos. Apa tampang ku waktu itu seperti mau menculik anak-anak? -___- , ga deh ya...perasaan aku pasang wajah welcome + senyum manis pelengkap sebagai bumbu pelengkap agar mereka mau berinteraksi dengan ku #Tttsaah


Lanjut...Setelah memperkenalkan namanya, aku pun mulai bertanya "ade berdua aja? berani ya?" mereka pun menjawab "kada ka, lawan mama jua ada". Dari situ aku tau, mereka suku banjar. Oke, alih bahasa. Pertanyaanku pun berlanjut "Loh? mama nya mana? kok ga sama ade?", si kaka pun menjawab "mama ngamen jua di sebelah sana ka ae" (sambil menunjuk sisi lain lapangan murjani". Rasa ingin tau ku semakin dalam, "oooh, ade sekolah? kelas berapa?", lagi lagi si kaka yang menjawab "ulun kelas 2, ading masuk nol besar ka". Aku mulai trenyuh...Mereka masih kecil, tapi sudah harus mencari rupiah seperti ini. Memang, mungkin banyak yang bernasib seperti mereka. Tapi ini adalah kali pertama ku berinteraksi langsung dengan orang-orang seperti mereka. Aku ajukan pertanyaan lagi "Dimana rumah ade?", dan jawaban yang aku dapatkan sangat mengejutkan ku...diluar perkiraan..aku benar-benar ga habis pikir.. Si kaka menjawab "Di kelayan, Banjarmasin ka". Hah?????? mereka kaget karena membuatku kaget sampai terkaget-kaget. Nah loh... serius, kaget. Aku ga habis pikir mereka bisa sampai disini, demi rupiah. Melampaui berkilo-kilo meter untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengais rupiah ditengah keramaian murjani yang memang tempat yang ga pernah sepi, lebih-lebih malam minggu. Aku makin penasaran "Trus kesini nya gimana? nginap?" , "kada ka ae, ulun ading lawan mama pp dari bjm-bjb-bjm lagi. Betaksi hijau tuh tadi sore, kena tengah malam mun kada parak subuh ae kami bulik begana dulu disini"...aku speechless. Cuma bisa mengamati mereka dan diam. Kami sama-sama terdiam. Sampai akhirnya bocah laki-laki itu menyadarkanku "ka, kami mutar lagi lah. makasih ka" sambil senyum kepada ku dan kaka ku. Aku cuma bisa membalas dengan senyum tulus untuk mereka. Ada rasa kasihan, sedih, bangga, yang pasti aku tau betapa tegar nya mereka, dan usaha mereka mendapatkan rupiah, aku lebih suka. Daripada sekedar mengemis. Entahlah, aku kurang suka dengan pengemis. Ya, memang aku ga pernah merasakan menjadi mereka, diposisi mereka. Tapi kalau boleh menilai, mereka seakan lupa dengan indra yang telah Tuhan beri. Mereka terlalu mudah menyerah dengan keadaan dan mengambil jalan pintas untuk memakmurkan mereka dengan memalaskan diri mereka. Padahal begitu banyak hal yang bisa mereka lakukan dengan indra yang Allah beri. Mereka sama aja tidak mensyukuri apa yang Allah beri. Apresiasiku lebih kuberikan kepada pengamen. Setidaknya mereka berusaha. Bukan mengemis. 

Ya Allah, kenapa aku belum bisa juga ikhlas dan bersyukur sebersyukurnya? sedangkan mereka disana jauh lebih keras hidupnya. Tapi mereka masih bisa ceria, masih bisa tertawa dan berusaha. Pengalamanku kali ini benar-benar membuka mata ku. Bahwa aku ga seharusnya rajin mengeluh. Karena aku dengan kelebihan dan keterbatasan yang kumiliki. Ini lah yang Allah beri. Ini lah yang menurut Allah aku butuhkan. Ini lah yang pantas aku dapatkan. Dan ini lah yang Allah tuliskan untuk ku. Mengapa aku masih mengintip hidup orang lain yang menurutku lebih makmur dan bahagia daripada duniaku? bukan kah setiap orang sudah memiliki porsinya masing-masing? dan tidak mungkin tertukar? Ya, aku tau itu. Tapi aku masih aja sering khilaf untuk mengeluh. Ampuni aku ya Allah. Pengalamanku kali ini benar-benar memberiku pelajaran bahwa ga seharusnya kita melihat keatas yang justru akan membuat kita galau dan protes. Seyogyanya kita melihat kebawah, dan lihatlah seberapa beruntung kita ini? Alhamdulillah...

Mari bersyukur....
Semenjak kejadian pertama itu, tiap ada pengamen anak kecil pasti ku introgasi.

Ya, aku tertarik dengan kehidupan mereka. Aku ingin  tau banyak tentang bagaimana mereka bertahan hidup?
Dan apa kekuatan mereka? Karena aku ga jamin, apa aku bisa sekuat mereka jika aku ada diposisi mereka?


"Menarilah dan terus tertawa, 
walau dunia tak seindah surga.
Bersyukurlah pada yang Kuasa.
Cinta kita didunia, selamanya...."


Semoga cerita sekaligus pengalaman ku ini dapat memberikan hikmah positif yang bisa diambil ya :)
jangan lupa bersyukur :)


Wassalam

0 Comments:

Posting Komentar